Wacana Baru Pendidikan Indonesia

Jumat, 09 November 2007

Beberapa minggu terakhir, Indonesia disibukkan oleh aneka ujian untuk sekolah-sekolah tingkat pendidikan menengah dan atas. Dari tahun ke tahun pula, pergantian kurikulum dan sistem pendidikan di Indonesia pun menjadi polemik yang menimbulkan pro dan kontra di hampir setiap kalangan masyarakat. Menteri, pengamat pendidikan, mahasiswa, bahkan sampai ibu-ibu rumah tangga ikut berkomentar tentang hal ini. Sebuah pemandangan yang cukup mengherankan. Ada apa dengan dunia pendidikan Indonesia ?


Dalam sejarah pendidikan Indonesia dari masa ke masa, kita akan melihat berbagai kepentingan yang menjadi penumpang gelap pendidikan. Suatu ketika pernah pendidikan kita diboncengi oleh kepentingan politik, atau terkadang pula dipinjam sebagai kedok industrialisasi pendidikan yang memiliki pemahaman kapitalis bahwa pendidikan adalah uang. Atau hal-hal lain yang sebagian masyarakat Indonesia menengah ke bawah menjadi terlalu lelah untuk mencernanya. Lalu apa sebenarnya visi pendidikan itu ?

Berangkat dari defenisi “Pendidikan” adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dan juga usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, maka jelas dapat kita kerucutkan sebuah visi pendidikan yaitu mencerdaskan manusia. Cerdas yang memiliki defenisi sempurna perkembangan akal budinya. Indonesia pun tak muluk-muluk mencantumkannya di dalam pembukaan UUD 1945 bahwa salah satu tujuan pembangunan nasional adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Lantas bagaimana perkembangannya setelah 62 tahun berjalan ?

Seperti yang kita lihat, semakin lama pendidikan Indonesia semakin tidak jelas arahnya. Kita dapat melihat dari lingkungan kita sendiri, bahwa saat ini anak-anak sekolah seakan seperti “terpaksa” untuk mengikuti perhelatan pendidikan. Yang ada hanyalah ketakutan, keterpaksaan, atau bisa jadi hanya rutinitas belaka tanpa semangat untuk menjadi cerdas. Demikian pula sistem perkuliahan di perguruan tinggi, mahasiswa dituntut menjadi serba cepat tetapi tidak tepat. Tidak semua memang, tetapi pada umumnya demikian. Diakui bahwa sistem pendidikan dahulu dan sekarang sudah jauh berubah, tetapi itu adalah sesuatu yang memang harus dilakukan karena berbedanya kebutuhan dan keadaan zaman. Visi tentu tak akan tercapai tanpa misi yang jelas dan terarah. Lalu bagaimana sebenarnya misi yang tepat untuk pendidikan kita ? Tidak bisa dipastikan atau dibakukan, karena memang banyak sekali rancangan yang bisa dibentuk secara bersama-sama demi perbaikan sistem pendidikan.

Bermacam tokoh dan pengamat pendidikan telah berusaha menyumbangkan ide dan gagasannya untuk pendidikan Indonesia. Di dalam buku “Menggagas Paradigma Baru Pendidikan” dengan editor Sindhunata, yang berisi kumpulan tulisan dan opini dari berbagai tokoh pendidikan, disebutkan tentang paradigma lama dan baru pendidikan :

Paradigma lama, “Pendidikan adalah tanggung jawab sekolah dan para pengelola institusi pendidikan. Lepas tanggung jawab macam ini akhirnya membuat pendidikan kita remuk dan tak mempunyai masa depan”

Paradigma baru, “pendidikan harus dikembalikan kepada masyarakat dan anggota masyarakat bersama-sama memikul tanggung jawab pendidikan anak-anaknya” (1)

Seorang Guru Besar Tetap pada Universitas Negeri Jakarta, Diana Nomida Musnir, memberikan gagasan tentang konsep pendidikan masa depan. Kalau sebelumnya, paradigma lama pendidikan akan membentuk manusia robot dan cenderung KKN karena prosesnya mengajarkan demikian, seperti di antaranya formalitas melampaui hakiki, administrasi pengendalian kreasi, pendekatan peraturan membunuh kreativitas, birokrasi mengendalikan fungsi, dan kebocoran dana karena pendekatan formalitas. Maka dengan paradigma baru pendidikan yang berorientasi masa depan, akan terbentuk manusia cerdas, arif/taqwa, dan terampil. Tentu saja semuanya dirancang dalam kurikulum pendidikan nasional. Beliau juga menyebutkan bahwa pengembangan sistem pendidikan nasional ke depan akan menghadapi berbagai masalah yang mendasar. Untuk berikutnya perlu dilakukan pendekatan futuristic-fundamental-scientific. Prinsip futuristic akan mengarahkan kepada kondisi masa depan bangsa, fundamental akan menjamin agar tidak selalu berubah karena hal-hal yang tidak mendasar, dan scientific akan menjamin akuntabilitas dan akseptabilitas program karena aspek scientific menjamin adanya objektivitas dari kenyataan dan kebenaran yang ditelaahnya (2).

Seorang Guru Besar Institut Pertanian Bogor, Andi Hakim Nasoetion, berdasarkan firman Allah swt bahwa ilmu ini diajarkan Allah Yang Maha Kuasa kepada manusia melalui akal manusia (QS. Al-alaq : 5). Dan sebagai bekal agar dapat mengelola bumi ini dengan sebaik-baiknya selaku pewarisnya *QS. Al-baqarah : 30-31). Beliau juga menyatakan bahwa rambu lain yang terpenting adalah untuk tidak memulai perubahan sistem dan kurikulum, sebelum para gurunya dipersiapkan dengan seksama (3).

Demikian beberapa gagasan dari tokoh pendidikan Indonesia. Jika ditanya pendapat saya sebagai seorang sarjana teknik kimia, merancang sistem pendidikan Indonesia ini hampir mirip seperti saat kita akan membuat sebuah produk. Saat itu kita tidak serta-merta membuat rancangan, tetapi terlebih dahulu membuat pra rancangan dengan blue print dari proses pembuatan produk tersebut, proses mana yang paling efektif dan ekonomis di antara proses-proses lainnya. Kemudian setelah produk itu jadi, tentu tidak serta-merta pula kita pasarkan, kita lakukan uji terlebih dahulu, layak atau tidak untuk dipasarkan.

Sistem pendidikan pun dapat dirancang sedemikian rupa menjadi lebih baik. Tetapi saya rasa diperlukan semacam tim khusus yang melibatkan semua kalangan masyarakat baik kalangan pejabat, pendidik, orang tua, maupun mahasiswa, dalam artian pendidikan ini adalah milik kita bersama. Bicara tentang pendidikan bukanlah hal yang mudah dan sepele karena output pendidikan adalah calon pemimpin bangsa ini kelak, maka sistem yang akan mengeluarkan calon tersebut pun haruslah tepat sasaran. Selanjutnya, perlu dilakukan peningkatan kualitas dan kesiapan dari para pengelola pendidikan ketika rancangan sistem pendidikan tersebut telah rampung. Jadi tidak langsung diterapkan, bisa jadi dilakukan seminar dan pelatihan untuk hal tersebut dan persiapan ini mungkin akan memakan waktu tahunan untuk selanjutnya diturunkan ke sekolah-sekolah.. Kemudian tidak lupa pula dengan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai dari pemerintah. Kita tak perlu membohongi diri, memang sarana dan prasarana saat ini sangat jauh dari memadai. Akhirnya, ketika visi dan misi telah jelas, sistem telah rampung, dan semua perangkat pendidikan sudah siap, maka pendidikan Indonesia akan memiliki wacana baru masa depan yakni kecerdasan masa depan yang global. Diharapkan keluaran dari pendidikan Indonesia mampu menjadi para solution maker untuk bangsanya, bukan problem maker.

Kutipan :

1. Sindhunata. Menggagas Paradigma Baru Pendidikan, Demokratisasi, Otonomi, Civil Society, Globalisasi.
2. Musnir, Diana Nomida. Arah Pendidikan Nasional dalam Perspektif Historis.
3. Nasoetion, Andi Hakim. Ilmu untuk Kehidupan dan Penghidupan.

(Sumber: http://www.sman2mks.com/index.php?option=com_content&task=view&id=685&Itemid=86)

0 komentar: