FKIP | 22 Mei 2007 | 09:13:40
Pendidikan bukan sekedar membangun intelektualitas, tetapi pendidikan seharusnya juga merupakan proses pemanusiaan, pemberadaban, penyejahteraan, pemersatuan, pengembangan kepribadian, serta ketaqwaan. Demikian kira-kira benang merah seminar nasional tentang pendidikan denga tema “KH Dewantara, KH Ahmad Dahlan, dan Driyarkara: Merevitalisasikan dan Mencari Sinergi Ide Tokoh-tojoh Besar Pendidikan bagi Visi Pendidikan yang Kebhinekaan Khas Indonesia” yang diselenggarakan oleh FKIP Universitas Sanata Dharma Sabtu (19/5) di Ruang Koendjono Lt. 4 Gedung Pusat Kampus 2 Mrican.
Hadir sebagai nara sumber seminar adalah Prof. Dr. Alois Agus Nugroho (Direktur Pascasarjana UAJ), Prof. Dr. Djohar, M.S. (Rektor UST), Dr. Bustami Subhan, M.S. (Direktur Pascasarjana UAD), Dr. Paul Suparno, S.J., MST (Dosen FKIP USD), dan Prof. Dr. Diana Nomida Musnir (Direktur Pascasarjana UNJ).
Prof Djohar yang membahas kontribusi KH Dewantara mengemukaan bahwa pendidikan bukan sekedar mendidik anak menjadi pandai. Orientasi hendaknya juga ditekankan untuk membangun manusia sosial budaya. Artinya pendidikan bukan menghasilkan manusia yang egosi tetapi yang berempati, bersimpati, dan tidak mementingkan kepentingan diri mereka sendiri. Oleh karena itu semangat “tut wuri handayani “ atau pendampingan senantiasa dikedepankan agar internalisasi nilai-nilai dalam pendidikan dapat optimal.
Sementara itu Prof. Agus mencermati bahwa kehidupan masyarakat Indonesia dapat diidentikkan dengan efek kupu-kupu. Satu peristiwa mempengaruhi peristiwa yang lain. Dia mengambil contoh efek smack down atau sinetron bagi kehidupan anak-anak didik kita. Dengan demikian sebenarnya efek kupu-kupu ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan mutu kehidupan manusia untuk pemberadaban atau humanisasi, meminjam istilah Drijarkara. Prof. Agus menilai bahwa gagasan Drijarkara tentang pendidikan sebagai upaya kompleks untuk memasukkan anak didik ke dalam kebudayaan atau memasukkan kebudayaan ke dalam anak didik menjadi sangat penting. Artinya, pendidikan tidak sekedar dilihat dari bagaimana membangun intelektualitas tetapi internalisasi nilai-nilai budaya dan perilaku.
Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Dr.Bustami yang mencoba menjabarkan visi pendidkan menurut KH Ahmad Dahlan. Beliau menilai bahwa pendidikan sebenarnya juga merupakan bentuk ibadah dan tempat menempa anak didik agar mampu memberikan sumbangan dan amal yang nyata bagi kesejahteraan manusia.
Didasari pada visi pendidikan Indonesia, Dr. Paul Suparnao dan Prof. Dr. Diana menekankan bahwa pendidikan harus diperjuangkan semaksimal mungkin untuk kepentingan pembangunan dan pemersatuan bangsa. Unsur kebhinekaan harus benar-benar mendapat tempat yang utama di tengah – tengah krisis kebangsaan ini. Pendidikan tidak boleh eksklusif, dibatasi dengan diskriminasi, serta memberikan tempat bagi keberagaman.
(Sumber: http://www.usd.ac.id/06/news.php?v=w&a=399&fp=a)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar