MEMBANGUN SPIRITUALISME DALAM PENDIDIKAN IPS

[ Redaksi - 21 Mei 2008]

Pendidikan IPS sangat erat kaitannya dengan pendidikan karakter atau pendidikan nilai. Dengan demikian, Pendidikan IPS dapat membantu upaya pembentukan akhlak dan martabat bangsa. Sayangnya, pelaksanaan pendidikan, khususnya pendidikan dan pembelajaran IPS umumnya masih hafalan, dan tidak kontekstual. Bahkan, pendidikan kita cenderung intektual dan menekankan pada kecerdasan intektual belaka. Perkembangan dari kecenderungan ini dipengaruhi adanya pola pikir negara-begara maju, yang lebih berorientasi pada inovasi dan eksperimentasi yang bersifat teknologis, tetapi kurang membangun perspektif tujuan dan kebutuhan asasi.

Demikian dikatakan Sardiman, AM, M.Pd., pada seminar nasional bertajuk “Membangun Spritualisme dalam Pendidikan IPS dan Diskusi Telaah Kurikulum IPS” di Hotel Saphir, Yogyakarta, Sabtu (10/5). Hadir sebagai pembicara lainnya, Prof. Dr. Komarudin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Banten, Prof. Dr. Diana Nomida Musnir, Dewan Pakar HISPISI dan guru Besar Universitas Negeri Jakarta, Dr. Taufik Pasiak, M.Pd.I., M.Kes., Ketua Pusat Studi Neuropsikobiologi dan Perilaku Sosial, dan Dr. Indria Laksmi Gamayannti, M.Psi., Pakar Psikologi. Seminar dengan dua sesi ini dimoderatori Octo Lampito dan Moerdiyanto, M.Pd. ini, dan dibuka langsung oleh Rektor UNY, Prof. Sugeng Mardiyono, Ph.D.

Masih menurut Sardiman, paradigma pendidikan tersebut di atas, kalau tidak hati-hati dapat mengarah pada format kehidupan yang sekuler dan cenderung menjauhkan nilai-nilai moral keagamaan. Akibatnya, pendidikan ini akan menghasilkan orang-orang yang selalu mengajar materi untuk memenuhi tuntutan physical happness, yang durasinya sesaat. Lebih parahnya lagi, peserta didik akan hanya berpikir kesejahteraan materiil, yang akan mendorong kehidupan penuh konflik, ketidakadilan, kesenjangan social, sehingga dapat menjauhkan dan menghancurkan dari hubungan persaudaraan yang harmonis dan asasi.

“Memahami hal ini, tampaknya menjadi sangat penting untuk memasukkan ruh spiritualisme dalam pembelajaran IPS, apalagi ingin memperkokoh khitah IPS sebagai bagian dari pendidikan karakter,” lanjut Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi UNY ini.

Sementara itu, Taufik Pasiak, menjelaskan posisi spiritualisme dalam kajian empirik neurosains. Dalam penjelasannya, dosen UNJ ini menunjukkan bagaimana peran dan area spiritual di otak yang amat berdekatan dengan sel-sel otak yang membentuk bahasa, emosi, dan motorik. Sedangkan, Diana Nomida musnir, lebih mengarahkan pada implementasi lima pilar belajar dalam pendidikan IPS. “Kelima pilar tersebut, yakni (1) belajar untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (2) belajar untuk memahami dan menghayati, (3) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, (4) belajar untuk hidup bersama dan lebih berguna bagi orang lain, dan (5) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri,” papar Diana. Oleh Khomarudin Hidayat, lima pilar yang menjadi inti pendidikan tersebut, diartikan dalam istilah Orpham, Wanderer, Warrior, Altruist dan Innocent. Di mana, kelima pilar tersebut saling keterkaitan, tetapi bangsa ini hanya yang menerima sesuatu yang sifatnya negatif saja, yakni ketergantungan dengan orang lain dan bersifat pamer.
Sebenarnya, ada lima hal yang ingin dicapai dalam pembelajaran IPS, yakni (1) menyadari identitas dirinya, (2) menikmati hak-haknya, (3) memenuhi kewajiban-kewajibannya, (4) keterkaitan dan keterlibatan dalam masalah-masalah publik dan (5) penerimaan nilai-nilai yang mendasar. Untuk itu, lanjut Sardiman, Pembelajaran IPS jangan dijadikan pembelajaran kelas dua. Karena peserta didik dan pendidik akan menjadi bosan.

(Sumber: http://www.uny.ac.id/home/data.php?m=951da6b7179a4f697cc89d36acf74e52&i=1&k=5570)

Tidak ada komentar: